SMAIT Ash-Shohwah Berangkatkan 28 Muridnya Mengikuti IEP Ke 3 Negara
Siswa-siswi SMA Islam Terpadu (SMAIT) Ash-Shohwah berfoto
bersama saat berada di Singapura untuk mengikuti IEP.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : SMA Islam
Terpadu (SMAIT) Ash-Shohwah Kabupaten Berau memberangkatkan sebanyak 28
muridnya untuk mengikuti International Education Program (IEP) ke 3 negara
yakni Singapura, Malaysia dan Hongkong.
Menurut penjelasan Kepala SMAIT
Ash-Shohwah Ririn Astriani saat pelepasan peserta IEP angkatan VIII di Bandara
Kalimarau, Kecamatan Teluk Bayur menuturkan untuk bisa sampai mengikuti program
unggulan sekolah yang di nakhodainya tersebut, siswa siswi dituntut untuk
berjuang keras secara mandiri.
“Program IEP ini kami menginginkan
siswa untuk bisa mengaplikasikan pembelajaran tentang nilai-nilai keyakinan,
perjuangan dan kerja keras. Yang paling utama ingin dicapai dari IEP ini adalah
menumbuhkan sikap rabbani, dimana saat mayoritas agama di luar negeri adalah non
muslim, mereka tetap istiqomah dalam menjalankan ibadahnya. Sebab di beberapa
negara mereka kunjungi nanti tidak ada Adzan dikumandangkan sebagai penanda
waktunya Sholat wajib, dan susahnya mencari makanan yang halal,” ungkap Ririn.
Kemudian tanggapan singkat salah
seorang Wali Murid bernama Arman mengatakan program ini sangat positif. Kembali
anak-anak ditempa kemandiriannya, ibadahnya juga saling kepedulian antar
sesamanya.
“Mudah-mudahan saja, selama di
luar negeri hingga kembali ketengah tengah kami sebagai orang tua anak anak
kita, juga Ustadzah dan Ustadz pendamping selalu sehat dan dilancarkan, Amiiin Ya Rabbal Alamin,” kata
Arman.
Sementara komentar salah satu
peserta IEP dari Kelas XII angkatan VIII, Muhammad Bintang Novrianto terkait
program yang bakal di jalaninya tersebut menuturkan bahwa sebelum IEP ini para
siswa siswi angkatannya telah dibaurkan dengan menjalani aktivitas kehidupan
sehari hari dengan diturunkan ke Kampung.
“Program itu adalah Sekolah Kerja
Nyata (SKN). Di mana kemandirian, kemampuan bertahan hidup tanpa ada fasilitas
dan menerapkan ilmu kami pelajari di sekolah dengan warga kampung setempat
sekitar kurang lebih sebulan telah kami jalan.
Kemudian tahun ini melalui IEP, tentu menjadi pengalaman baru tersendiri
bagi kami. Terutama bagaimana bersikap dan berinteraksi dengan masyarakat yang
berasal dari kultur yang berbeda,” paparnya.
Lanjut Ketua Badan Eksekutif Siswa
Terpadu (BEST) SMAIT Ash-Shohwah itu, dengan pengetahuan yang minim akan negara
negara akan dirinya beserta teman temannya tandangi, serta bermodalkan bahasa
inggris yang juga terbatas, berupaya untuk menjalani guna menambah pengalaman
hidup.
“Dalam program ini kami berharap bisa mempelajari budaya, karakteristik, kehidupan di negara negara bakal kami datangi tersebut. Pada kesempatan ini kami juga nantinya diajak menempa ilmu dengan beberapa Universitas di negara negara kami kunjungi,” imbuhnya.
Di negara pertama dikunjungi yakni
Singapura, saat berupaya komunikasi dengan orang lokal, ternyata bahasa inggris
warga sini (Singapura) logatnya sangat berbeda dengan yang saya pahami. “Inilah
pengalaman, kalau bukan melalui IEP saya tidak pernah bisa menguji kemampuan diri
dan kemandirian saya, saat hidup jauh dari orang tua. Mudah mudahan saya
beserta seluruh rombongan selali istiqomah, di negara manapun kami berada,”
ucap Bintang. (sep/FN)